ANTARA NIKMAT DAN MUSIBAH: MASISIR DAN UPAYA MENEMPATKAN AI PADA TEMPATNYA



Tidak dapat kita pungkiri, salah satu nikmat yang patut disyukuri karena terlahir di abad ke-21 adalah hidup di era globalisasi teknologi, yang tentu berperan penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Perkembangan teknologi hadir dari berbagai bidang, terutama pendidikan.


Salah satu teknologi yang sangat populer saat ini adalah Artificial Intelligence, atau yang lebih dikenal dengan sebutan AI. Para ahli telah mendefinisikannya dengan berbagai rumusan, namun menurut hemat saya, AI adalah kecerdasan dari cabang ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan sistem dan mesin yang mampu mengerjakan tugas-tugas yang pada umumnya memerlukan kecerdasan manusia.


Kehadiran AI sebagai alat alternatif yang praktis, dapat diakses kapanpun dan dimanapun, membawa perubahan yang signifikan bagi setiap kaum pelajar, tidak terkecuali masisir. Berbagai dampak muncul darinya, baik ke arah positif maupun negatif. Pada dasarnya, AI dirancang hanya sebagai alat untuk memudahkan proses pembelajaran, seperti mencari referensi, menyelesaikan tugas kuliah, menjadi teman berdiskusi, menyusun makalah dan jurnal, serta memperluas wawasan di luar mata kuliah yang diajarkan di Al-Azhar.


Saya sendiri tidak menafikan dampak positif tersebut. Bahkan, boleh dikatakan saya termasuk orang yang lebih senang bertukar argumen dengan AI ketimbang harus berdebat dengan orang yang tidak dikenal, sebab sebuah diskusi yang hidup menuntut kedua belah pihak memahami adab-adab berdebat, dan hal itu tidak selalu mudah ditemukan dalam kehidupan nyata. Meski demikian, ini bukan berarti saya menafikan pentingnya majelis ilmu bersama manusia; bagi saya, berdiskusi dengan AI hanyalah ruang latihan sebelum benar-benar terjun ke medan diskusi yang sesungguhnya, bukan pengganti daripadanya. Secara keseluruhan, dari sudut pandang inilah AI layak dipandang sebagai nikmat yang pantas disyukuri.


Namun ingat, sampai kapan pun AI hanyalah wasilah atau alat. Maka, nilai baik dan buruknya tergantung sepenuhnya pada cara kita memakainya. Oleh karena itu, tidak heran jika sesuatu yang 

awalnya nikmat bisa berbalik menjadi musibah. Lantas, kapan hal itu terjadi?


AI bisa dinilai sebagai bencana ketika banyak masisir mulai terlena dengan kemudahan yang ditawarkannya. Tidak sedikit dari mereka yang kemudian menjadikan AI sebagai sandaran utama dalam menuntut ilmu dan enggan berusaha berkutat dengan karya-karya ulama, karena menganggap akan lebih praktis memakai bantuan AI, baik dalam menerjemahkan, mengerjakan tugas kuliah, bahkan menulis opini seperti yang tengah saya lakukan sekarang ini. Sikap semacam ini tentu tidak dibenarkan dalam agama; karena bersandar dengan sesuatu yang bukan termasuk sumber syariat tetapi digunakan untuk memecahkan permasalahan syariat dan pada saat yang sama, dapat merusak daya nalar kritis mahasiswa itu sendiri.


Bayangkan, persoalan kompleks di bidang aqliyat yang biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai pada sebuah kesimpulan, kini dapat diperoleh hanya dengan sekali klik. Jawaban atas persoalan fikih yang semestinya membutuhkan penelusuran ke berbagai kitab babon, sekarang bisa keluar dalam hitungan detik. Fenomena ini seakan-akan meremehkan ilmu itu sendiri.


Padahal, ulama terdahulu rela menghabiskan umurnya hanya untuk memecahkan satu persoalan agama, sementara di zaman sekarang tidak sedikit orang yang berangkat ke Mesir dengan cita-cita menjadi ulama, namun enggan menghabiskan waktu dan pikirannya untuk menuntut ilmu. Jangankan talaqqi, belajar pun baru dimulai ketika ujian tinggal seminggu lagi. Fenomena semacam ini saya kira, sangat tidak layak untuk disyukuri dan harus diminimalisasi.


Nalar Berpikir yang Kehilangan Medan Latihannya


Jika ditinjau dari sudut pandang daya kognitif seorang mahasiswa, dampaknya juga tidak kalah fatal. Terlalu sering bertumpu pada jalan yang serba mudah membuat nalar berpikir kehilangan medan latihannya.


Tradisi keilmuan Al-Azhar dibangun di atas metode yang menuntut kesabaran, mulai dari menghafal matan, memahami syarah, menelaah hasyiah, hingga berdebat dalam majelis munazharah. Proses ini panjang dan melelahkan, tetapi justru di situlah nalar seorang thalibul ilmi ditempa. Ketika AI hadir menawarkan ringkasan instan dari sebuah kitab tebal, atau menjawab soal fikih yang rumit hanya dalam beberapa baris, godaan untuk melewati proses panjang tersebut menjadi sangat besar.


Padahal, nalar yang tajam tidak lahir dari jawaban yang cepat, melainkan dari proses bergulat dengan teks, dari kebingungan yang perlahan terurai lewat muroja'ah dan diskusi. “Hakadza sya'nul muhibbin”(beginilah keadaan seseorang yang sedang jatuh cinta) demikian para ulama menuturkan. Ia laksana seorang pecinta yang senantiasa mencari perhatian kekasihnya agar tidak dijauhi, sebab ilmu itu sejatinya pencemburu; apabila engkau berpaling darinya, maka ia pun akan meninggalkanmu. Untuk menjadikan ilmu sebagai keterampilan yang benar-benar melekat dalam diri, jalan inilah yang mesti ditempuh.


Jika masisir terbiasa mengandalkan AI untuk memahami istilah ushul fikih atau musthalah hadits tanpa menelusuri sendiri makna dan konteksnya dari kitab asli, maka yang terjadi bukanlah pemahaman, melainkan sekadar penguasaan di permukaan. Nalar yang seharusnya terlatih untuk menimbang dalil dan pendapat ulama, justru terbiasa menerima jawaban jadi tanpa mempertanyakan dari mana ia berasal. Lama-kelamaan, hal semacam ini akan menciptakan sikap remeh terhadap persoalan agama dan berpotensi berimbas pada generasi muslim selanjutnya. Bagi saya, inilah salah satu ancaman nyata yang tengah mengintai keberlangsungan umat, sebab rasanya tidak ada yang lebih utama pada zaman ini selain menjaga khazanah Islam dan mengamalkan nasihat para ulama yang telah tertuang dalam karya-karya mereka.


Turos yang Terancam Kehilangan Ruh Sanadnya


Dan barangkali, yang paling mengkhawatirkan bagi saya adalah ancaman terhadap kelestarian turos itu sendiri. Ilmu dalam tradisi Islam tidak pernah berdiri sendiri sebagai sekadar kumpulan informasi, melainkan terikat erat dengan sanad, yaitu mata rantai periwayatan yang menyambungkan seorang penuntut ilmu dengan gurunya, gurunya dengan gurunya lagi, hingga bersambung kepada sumber aslinya. Talaqqi di hadapan masyayikh bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan juga transfer adab, ketelitian, dan keberkahan ilmu. Beginilah yang telah diajarkan oleh para kibar masyayikh Al-Azhar kepada kita, turun-temurun.


AI, betapapun canggihnya, tidak memiliki sanad. Ia menyusun jawabannya dari kumpulan data yang tidak jarang bercampur antara sumber yang muktamad dan sumber yang lemah, bahkan menyimpang, tanpa mampu membedakan mana pendapat yang rajih dan mana yang syadz. Ketika masisir mulai terbiasa mengutip fatwa atau pendapat fikih dari jawaban mesin tanpa menelusuri kembali ke sumber aslinya, tanpa mentahqiq siapa yang berpendapat demikian dan dalam kitab apa hal itu tertulis, maka perlahan-lahan rantai keilmuan yang telah dijaga selama berabad-abad itu berisiko terputus. Turos bukan sekadar naskah yang bisa diringkas, melainkan warisan hidup yang harus terus disambungkan dari generasi ke generasi melalui proses belajar yang otentik.


Lebih jauh, kemudahan akses AI juga berpotensi menggeser kecintaan masisir terhadap kitab-kitab turos yang menjadi ciri khas keilmuan Al-Azhar. Mengapa harus bersusah payah membuka Al-Mawaqif untuk memahami akidah, atau menelaah Ihya Ulumuddin dan Jam'ul Jawami', apabila sebuah rangkuman singkat sudah tersaji di layar ponsel? Padahal, keindahan turos justru terletak pada kedalaman bahasanya, pada nuansa yang hanya dapat ditangkap ketika seseorang membacanya langsung dari kitab aslinya, bukan dari sari pati yang telah disederhanakan oleh mesin yang tidak memahami konteks keilmuan Islam secara utuh.


Ancaman terhadap fondasi keilmuan semacam ini pun tidak hanya berlaku pada ranah ushul fikih atau hadis, melainkan turut saya saksikan sendiri di bidang yang tengah saya tekuni. Dari pengalaman pribadi saya, dampak negatif ketergantungan terhadap AI ini tampak nyata pada beberapa rekan diskusi saya di jurusan Akidah Filsafat. Memang benar, memperluas bacaan merupakan hal yang wajib bagi kami yang menggeluti bidang akidah. Sayangnya, tidak sedikit rekan saya yang menganggap ilmu akidah sekadar bacaan semata, sehingga mereka hanya fokus memperluas cakupan bacaan tanpa terlebih dahulu menanamkan pondasi yang kokoh terhadap akidah yang seharusnya mereka yakini dan pertahankan, yaitu akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Bukan Sekadar Menolak, tetapi Menempatkan pada TEMPATNYA 


Tentu saja, tidak bijak apabila AI dipandang semata-mata sebagai ancaman yang harus dijauhi. Sebagai alat bantu administratif, misalnya untuk merapikan catatan kuliah, menerjemahkan istilah asing, atau menyusun kerangka muhadarah, AI dapat memberikan manfaat yang nyata. Persoalannya terletak pada batas yang harus dijaga, yaitu AI boleh menjadi alat bantu di pinggiran, tetapi tidak boleh menggantikan proses talaqqi, muroja'ah, dan tahqiq yang menjadi jantung dari tradisi keilmuan Al-Azhar.


Masisir perlu menanamkan satu prinsip sederhana namun tegas, yaitu setiap jawaban yang berkaitan dengan ilmu syar'i, apalagi yang menyangkut hukum halal-haram, wajib dikembalikan kepada kitab turos dan bimbingan masyayikh, bukan kepada mesin yang tidak memiliki keterikatan keilmuan maupun tanggung jawab spiritual atas jawaban yang diberikannya. Kesadaran ini harus terus dijaga, terlebih di tengah kemudahan yang setiap saat menggoda untuk mengambil jalan pintas.


Penutup: Merawat Ilmu, Merawat Diri


Pada akhirnya, tulisan ini saya buat bukan untuk mengajak para pembaca menolak kehadiran Artificial Intelligence, sebab menolaknya sama saja dengan menutup mata dari zaman yang tengah kita jalani. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kemudahan tidak boleh dibiarkan menggantikan kesungguhan, dan kecepatan tidak boleh dibiarkan mengorbankan kedalaman. AI boleh menjadi teman, tetapi ia tidak boleh menjadi guru; ia boleh menjadi alat bantu, tetapi ia tidak boleh menjadi sandaran; ia boleh mempercepat, tetapi ia tidak boleh menggantikan proses ta'lim yang telah diwariskan Al-Azhar selama lebih dari seribu tahun.


Maka, sintesis yang perlu diterapkan oleh setiap masisir adalah menempatkan AI sebagai wasilah, bukan sebagai ghayah; sebagai sarana, bukan sebagai tujuan. Gunakanlah ia untuk hal-hal yang bersifat teknis dan administratif, namun kembalikanlah setiap persoalan ilmu, terlebih ilmu syar'i, kepada kitab turos dan bimbingan masyayikh secara langsung. Jagalah nalar dengan tetap berlatih melalui muroja'ah, munazharah, dan tahqiq, sebab di situlah ketajaman berpikir sesungguhnya ditempa. Dan yang tidak kalah penting, jagalah sanad keilmuan dengan terus menyambungkan diri kepada para masyayikh, sebab ilmu tanpa sanad hanyalah informasi, bukan warisan.


Sebab pada akhirnya, seorang thalibul ilmi tidak diukur dari seberapa cepat ia menemukan jawaban, melainkan dari seberapa dalam ia menempuh perjalanan untuk sampai kepada jawaban itu. Dan Al-Azhar, dengan segala keagungan sanad dan turos-nya, akan tetap berdiri kokoh sebagai menara ilmu, selama masisir yang menimba ilmu di dalamnya masih mau bersusah payah untuk benar-benar belajar, bukan sekadar mencari jawaban.


Penulis: Luthfan Dzaky Al Fathi

Editor: Najwan Al Baihaqi

Komentar

Postingan Populer