PENDIDIK: SEBAGAI PENENTU KESAN PERTAMA PENUNTUT ILMU


 

Dalam dunia pendidikan, pendidik dianggap sebagai unsur terpenting dalam menentukan suasana pembelajaran. Mengapa demikian? Sebab, dari tangan merekalah terlahirnya kaum terdidik dan terarah. Para pendidik tak hanya berperan sebagai sosok yang menjelaskan materi dan kemudian didengar oleh para murid, melainkan juga sebagai perantara antargenerasi dari guru yang telah mengajarkannya kepada murid yang akan diajarkan. Maka penting bagi pendidik untuk memperhatikan beberapa aspek agar ilmu tersalurkan dengan maksimal.


Namun, terkadang kita terlalu menuntut para murid agar selalu menerima kondisi pengajarnya dengan alasan keberkahan ilmu. Tanpa disadari, tuntutan tersebut hanya tertuju kepada satu pihak tertentu.


Padahal, melalui pendidiklah cara  pandang murid terhadap ilmu itu terbentuk. Memang benar, bahwa guru adalah pihak yang memiliki ilmu, sementara murid adalah pihak yang membutuhkannya. Pertanyaannya adalah apakah label pendidik muncul dengan sendirinya tanpa penuntut ilmu? Maka amat disayangkan ketika pendidik yang merupakan representasi dari ilmu yang terkandung di dalamnya menampilkan tutur kata dan tata krama yang jauh dari ilmu itu sendiri. Sehingga dari sini pola pikir seorang murid menjadi berbalik arah. Jikalau demikian adanya maka tidaklah dapat kita sematkan keberhasilan kepada sang pendidik.


Lantas, apa tolak ukur keberhasilan seorang pendidik? Menurut hemat saya, keberhasilan seorang pendidik tidak terletak pada banyaknya materi yang ia sampaikan ataupun lamanya waktu yang ia habiskan untuk mengajar, melainkan pada sejauh mana ia mampu menumbuhkan kecintaan murid terhadap ilmu. 


Ketika seorang murid telah mencintai ilmu karena keteladanan dan cara mengajar gurunya, proses belajar akan terasa istimewa. Durasi yang panjang maupun materi yang sulit tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari kenikmatan dalam menuntut ilmu.


Namun, perlu digarisbawahi bahwa seorang guru tidak dapat menjadikan muridnya cerdas secara hakiki, sebab ilmu merupakan anugerah dari Allah. Sebagaimana seorang nabi tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang paling dicintainya karena hidayah sepenuhnya milik Allah. Demikian pula seorang pendidik hanya berperan sebagai sebab, bukan penentu hasil akhir.

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: "Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk."


Oleh karena itu, yang dapat diupayakan oleh seorang guru adalah menghadirkan sebab-sebab yang mendekatkan murid kepada ilmu; seperti bertutur kata dengan santun, memperhatikan kondisi lawan bicara, menghargai audiens, serta menyampaikan pelajaran dengan penuh hikmah. Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan teladan terbaik bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh tujuan yang mulia, tetapi juga oleh cara dan sarana yang digunakan untuk mencapainya.


Pada akhirnya, sebesar apapun usaha pendidik dalam mewujudkan harapannya semuanya berada dalam genggaman sang pencipta. Adapun yang tersisa darinya hanyalah memaksimalkan ikhtiar, menempuh sebab-sebab terbaik kemudian menyerahkan semuanya kepada pencipta 

خذ الأسباب كأن الاسباب كل شيء واعتمد على رب الاسباب كأن الاسباب ليست بشيء

"Berpeganglah pada sebab seakan sebab adalah segalanya, dan berpeganglah kepada sang pemilik sebab seakan sebab tidak ada apa-apanya."


Oleh: Ananda Azwanul Husin Sitorus

Editor: Rizki Ardiansyah

Komentar

Postingan Populer