Saat yang (Tidak) Akan Terulang
Oleh: Rizki Ardiansyah
“Ya Allah, Nak! Sudah tengah malam begini, kenapa belum tidur?”
Gelap telah menguasai hampir seluruh ruangan di rumah dua tingkat itu. Tersisa satu kamar di lantai dua yang dari balik pintunya mengalun suara serak yang mencoba menaklukan ayat demi ayat, ditemani lampu kuning yang temaram.
“Eh?”
Tubuhku yang sedari tadi bergerak ke kiri dan kanan berhenti seketika, begitu juga dengan suaraku yang serak ikut terputus. Tangan keriput itu melingkar di pundakku, rasa hangat menyesap di relung bahu untuk kemudian mengalir ke seluruh sarafku. Ummi telah berdiri mantap di sebelahku.
“Iya Ummi, target murajaah hari ini belum selesai. Setengah juz lagi dan Hakam akan tidur. Hakam janji.” Sebuah senyum manja kujadikan tawaran yang tidak pernah bisa ditolak Ummi meski aku bukan anak-anak lagi. Helaan napas Ummi terasa hingga ke kulit itu tanda bahwa kesepakatan telah diambil.
“Nanti kalau sudah selesai langsung tidur ya nak.”
Aku mengangguk, lantas ikut mengantar Ummi turun hingga ke lantai bawah. Di atas mejaku tadi terhamparlah sebuah mushaf dengan sampul biru. Mushaf itu terbuka tepat di juz 15, halaman 285.
###
“Abang kenapa bengong sih?” Tangan lembut dengan jari-jemari pendek itu sedari tadi melingkar di lenganku. Sebuah gelas kosong sisa kopi masih teronggok bisu. Suara denting yang berasal dari sendok yang beradu dengan gelas memekakkan telinga.
“Abang!”
“Eh, iya dek.”
Dia mengembungkan pipi, bersedekap. “Abang, ih. Gak sayang lagi sama adek ya?” Tak ada lagi senyuman indah di wajahnya, sempurna telah berganti dengan cemberut masamnya.
“Gak ada yang bilang gitu lho.” Aku masih sempat menoleh ke arah anak yang ada di samping kananku.
“Jangan marah gitu dong, Fara yang cantik.”
Tapi gombalan itu sama sekali tidak meluluhkannya. Mataku masih menangkap kepada apa yang dipegang anak itu. Aliran darah seolah memacu lebih cepat dari biasanya di tubuhku. Bentuknya, tulisan-tulisannya, halamannya. Astaghfirullah. Hanya itu yang bisa terucap dalam hatiku. Mushaf itu persis membuka halaman 285.
“Adek pulang sajalah.” Gadis yang usianya terpaut satu tahun denganku itu telah beranjak pergi. Mataku kembali ke mushaf yang dipegang anak tadi.
Kapan terakhir kali aku menyentuh mushaf itu? Kapan terakhir kali aku membuka halaman-halamannya? Membaca isinya, melantunkannya dengan lancar tanpa harus melihatnya? Kapan? Entahlah. Kenyataan yang pasti adalah, mushaf biru itu dipenuhi debu satu senti di kamarku.
###
“Astaghfirullah, Hakam. Sudah jam tiga sore dan kamu belum makan siang.”
Lagi-lagi bacaanku baru berhenti ketika Ummi menghampiriku. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terpaku di kursi ini mengulang seluruh hapalanku. “Ummi sudah makan? Hakam temani ya.” Senyum kesekian masih ampuh untuk meluruhkan seluruh kekesalan Ummi kepadaku.
“Ummi sudah makan dari tadi. Ayo cepat turun.”
Di meja makan terhidang setidaknya tiga dari empat jenis makanan favoritku. Aroma sambal terasi yang khas memenuhi meja makan. Tempe bacem dan kangkung tumis tidak pernah absen setiap hari jumat. Itu masakan khusus Ummi buat anak bungsunya.
“Bagaimana setoranmu, nak? Lancar?”
“Alhamdulillah lancar Ummi. Insya Allah bulan depan khatam.”
“Alhamdulillah.”
###
Lantai kayu itu berdecit berirama mengikuti langkah kakiku. Rumah itu kosong ketika aku kuliah atau ada keperluan di luar. Sudah dua tahun sejak Ummi meninggal, tidak ada lagi yang akan mengomel untukku, hanya sekedar untuk mengingatkan makan atau menyuruh tidur. Yang tersisa hanya dering notifikasi khusus dari whatsappku, dari dia yang hadir setelah kepergian Ummi. Fara, pacar pertama dan terakhirku.
Ting! Notif itu masuk lagi.
‘Abang udah pulang? Jangan lupa makan. Jangan begadang. Tidur cepat.’ Sebuah pesan yang cukup membuatku senyum-senyum hingga menjelang tidur. kebiasaan itu pulalah yang menggantikan Ummi yang sering meneriakiku. ‘Iya, adek.’ Balasan singkat yang akan mendapat love darinya.
Kamar lantai atas masih sama seperti dulu. Ruangan 2x2 meter itu sedikit berdebu. Setiap anak tangga memberikan sebuah perasaan yang amat aku kenali. Bilah pintu terbuka hanya dengan sedikit tenaga. Terhamparlah pemandangan yang telah lama aku tinggalkan. Di meja yang sama, mushaf yang sama, warna birunya telah usang, berubah menjadi coklat ditutupi debu.
Kuedarkan pandanganku pada setiap sudutnya. Aku bahkan bisa melihat dengan jelas sosok Ummi yang berdiri di sebelah kursi yang biasa kugunakan belajar di kamar ini. Kakiku terasa kaku. Aku berusaha menggerakkannya ke arah meja itu. Lima detik, hingga tanganku terjulur mengusap mushaf biru itu. Debunya berterbangan membuatku batuk. Tulisan-tulisan itu, lidahku kelu seakan tak ada lagi yang tersisa darinya di kepalaku.
Aku coba membacanya kembali. Astaghfirullah, seakan direset ulang, otakku benar-benar tidak punya ingatan sedikitpun tentangnya. Baiklah aku membaca dengan melihatnya. Ya Allah, bahkan setelah aku berhadapan langsungpun tulisan itu benar-benar terasa asing di hatiku. Ada apa ini? Apakah sekejam itu hukuman-Mu kepadaku.
Mushaf itu bergetar manakala aku memaksa untuk terus membacanya. Bahuku terguncang, detak jantungku tidak lagi normal. Dengan terpaksa aku meletakkannya kembali ke atas meja. Kuraih ponsel di saku celanaku. Aku menekan satu nomor yang amat aku hapal, bahkan tanpa perlu dicari karena nomor itu persis berada di urutan paling atas.
‘Dek, mari kita akhiri hubungan ini.’
Satu pesan yang bahkan tanpa perlu dijelaskan bisa dimengerti dengan lugas. Bagaimana tidak? Fara selama ini juga mengalami hal yang sama. Seluruh ingatannya tentang isi mushaf itu satu persatu luntur ketika hubungan haram ini dimulai. Bahkan kami berkenalan tepat ketika kompetisi hapalan digelar.
Mushaf itu sekarang dipenuhi air dari wajahku, sisa wudhu yang baru saja aku kerjakan. Baiklah, aku mulai membacanya perlahan. Dimulai taawudz lantas berlanjut basmalah hingga satu persatu ayat Al-Quran itu kembali mengalir di lisanku. Satu halaman, satu lembar, hingga tak terasa satu juz Al-Quran telah aku lantunkan dengan sesekali di sela isakan.



Komentar
Posting Komentar