Halaman yang Robek

Oleh: Putri Zulkarnaen Harahap

Halo teman-teman, perkenalkan namaku Putri Zulkarnaen. Ini adalah sepenggal kisah perjalananku di tanah para Nabi, Mesir. Aku membagikan ini bukan untuk dikasihani, melainkan dengan harapan agar siapa pun yang membacanya dapat menemukan setitik alasan untuk tetap melangkah, sesulit apa pun jalan yang sedang dilalui.

Opening

Ada luka yang tidak sempat mengering karena dipaksa menyeberangi samudera. Ada anak kecil yang harus berhenti merajuk karena pelukannya telah direnggut tanah pemakaman.

Aku berangkat ke Mesir pada usia lima belas tahun usia ketika seharusnya aku masih bersembunyi di balik punggung Ayah saat takut. Namun aku justru berdiri di bandara dengan koper yang terasa seperti peti mati bagi masa kecilku. Ayah baru saja pergi untuk selamanya.

Duniamu mungkin masih berwarna. Duniaku saat itu hanya abu.

Aku terbang membawa luka yang belum sempat dijahit menuju negeri asing yang tidak menjanjikan kehangatan. Di atas awan, aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan: sejak hari itu, aku harus belajar memeluk diriku sendiri saat terjatuh.

Labirin Darrosah: Saat Dunia Terasa Sempit

Kairo tidak menyambutku dengan keramahan.

Di sebuah sudut bernama Darrosah, aku tinggal di bawah atap yang sama dengan seorang pengasuh yang hatinya sekaku batu. Sebagai anak dari keluarga sederhana, aku dipandang sebelah mata, dimanipulasi, dan dibuat merasa "kurang" setiap hari.

Aku bukan tidak pintar, hanya sedang hancur.

Saat ujian Ma'had tiba, konsentrasiku pecah seperti kaca jatuh. Pelajaran IPA yang biasanya bisa kutaklukkan mendadak terasa seperti bahasa asing. Ketika hasil keluar, satu kata menghantam harga diriku: remedial.

Di sujud tahajud yang paling sunyi, aku menangis hingga sesak, mempertanyakan mengapa Tuhan seolah tak memberiku ruang bernapas.

Lalu aku membaca sebuah kalimat di layar ponsel:

"Kegagalan itu seperti halaman buku yang robek. Kau tidak harus menyambungnya malam ini. Cukup lanjutkan membaca."

Aku berhenti memandangi halaman yang hilang.

Perlahan, aku belajar di sela suapan makan yang hambar, menghafal saat mata memerah karena kantuk. Hingga akhirnya, aku meraih nilai tertinggi di kelas IPA. Matematika masih memaksaku mengulang - tetapi kali ini aku tidak menangis. Aku justru tertawa.

Saat itu aku mengerti: kegagalan bukan akhir, melainkan cara Tuhan memperkenalkan batas sekaligus kekuatanku.

Ramadhan 2025: Perjamuan Air Mata

Seolah ujian belum selesai, Ramadhan 2025 datang dengan wajah paling muram. Ibu mengalami kecelakaan hebat di tanah air. Pilar ekonomi kami runtuh, dan bantuan dari abangku perlahan menghilang.

Saat teman-temanku sibuk merencanakan buka bersama, aku sibuk menghitung sisa uang dan tenaga.

Pagi aku bersekolah dengan perut kosong. Siang hingga petang aku bekerja menjemput anak-anak di bawah terik matahari Kairo yang membakar kulit. Tubuhku sering demam, kepalaku berdenyut, tetapi aku menolak tumbang. Aku tahu tidak ada siapa pun yang akan menangkapku jika aku jatuh.

Puncaknya adalah saat adzan Maghrib berkumandang.

Orang-orang berbuka dengan es dingin dan kurma  di tengah tawa. Aku hanya memiliki seteguk air putih hangat untuk menenangkan tenggorokan yang kering. Aku baru pulang sekitar pukul sembilan malam.

Di dapur yang gelap, aku duduk sendirian di depan sepiring nasi. Bahuku bergetar hebat saat aku makan. Air mata jatuh ke piring, menjadi satu-satunya lauk yang terasa nyata malam itu.

Aku bekerja bukan karena kuat - melainkan karena tidak punya pilihan selain bertahan.

Alexandria: Pelajaran tentang Manusia

Pelajaran terakhir datang di pesisir Alexandria.

Di tengah tawa teman-teman, sakit gigi yang luar biasa menyerang hingga sarafku terasa seperti disobek. Aku memohon untuk pulang, tetapi mereka memilih tetap menikmati perjalanan.

Aku pulang sendirian.

Di dalam kendaraan umum yang gelap, ketakutan merayap saat melihat gelagat pengemudi yang mencurigakan. Aku turun di tengah jalan, berlari tanpa arah sambil menangis karena sakit dan sepi, hingga menemukan sebuah apotek.

Seorang dokter perempuan menatapku lama, lalu menarikku ke dalam pelukannya tanpa banyak kata.

Pelukan orang asing itu terasa lebih seperti rumah daripada kebersamaan yang baru saja kutinggalkan.

Malam itu aku belajar rahasia pahit: ketika dunia tidak memihakmu, kau harus menjadi pahlawan bagi dirimu sendiri.

Sejak saat itu, aku menjaga jarak - bukan karena benci, tetapi karena aku sadar hatiku terlalu berharga untuk diletakkan di tangan yang tidak peduli.

Penutup: Prasasti Kekuatan

Perjalananku belum selesai. Ujian akhir kulalui dalam kondisi infeksi pencernaan yang membuatku bolak-balik rumah sakit. Uang habis, tubuh ringkih - tetapi jiwaku telah ditempa menjadi baja.

Nilai-nilainya keluar dengan indah. Geografi memang buruk, tetapi untuk pertama kalinya aku tidak menyalahkan diriku sendiri. Aku tahu aku sudah berjuang sekuat mungkin.

Dan itu cukup.

Cerita ini adalah bukti bahwa manusia bisa jauh lebih tangguh dari yang ia bayangkan. Jika hari ini bebanmu terasa membunuhmu, bertahanlah sedikit lagi. Tetap bangga pada dirimu yang masih memilih bangun esok pagi.

Karena pada akhirnya, yang benar-benar tahu seberapa berdarah perjuanganmu hanyalah dirimu sendiri... dan Tuhan yang memelukmu dalam diam. 

Terimakasih sudah membacanya sampai akhiršŸ¤

Komentar

Postingan Populer