Blooming in Silence: Versi Aku
Oleh: Sofa Aini Nasution
Hai semua, apa kabar? Semoga di musim yang tidak menentu ini kita termasuk orang-orang yang masih Allah titipkan nikmat sehat. Dan bagi yang sedang kurang sehat, semoga lekas pulih dan setiap sakit menjadi penggugur dosa. Aamiin.
Perkenalkan, aku Sofa, anggota Generasi tahun ini, angkatan El Adzka di HMMSU. Aku tiba di Mesir pada Desember 2023. Karena tidak datang bersamaan dengan mediator teman-teman El Adzka, sampai sekarang masih banyak yang belum aku kenal, dan mungkin belum mengenalku juga. Bahkan ada yang mengira aku masih anak ma’had. Secomel itukah sampai sudah kepala dua masih dikira begitu?
Baiklah, cukup intermezzo-nya.
Di tulisan ini aku tidak ingin membahas hal-hal berat atau teori yang penuh istilah keilmuan. Aku hanya ingin berbagi cerita tentang sesuatu yang sangat dekat denganku: mimpi dan perjalanan memperjuangkannya.
Tentang Diary dan Wishlist
Aku yakin banyak dari kita yang pernah punya buku diary. Terutama anak pondok, rasanya diary itu seperti “buku rahasia negara”. Isinya hanya kita dan Allah yang tahu.
Tapi kalau aku, diary-ku bukan hanya berisi curhatan masa remaja. Di dalamnya ada ratusan wishlist tentang masa depan. Impian, cita-cita, dan harapan yang kutulis satu per satu. Tentu sesekali ada curhat juga, karena menulis adalah salah satu cara paling jujur untuk berdamai dengan diri sendiri.
Dari semua wishlist itu, nomor satu yang kutulis adalah: kuliah di luar negeri.
Pilihan yang kutuliskan saat itu: Al Qasimia, Turki, Mesir, dan Saudi.
Sejujurnya, di lubuk hati paling dalam, Al Qasimia adalah pilihan utamaku.
Cinta Pertama yang Tidak Berbalas
Saat SMA aku mengambil jurusan bahasa. Bukan karena paling pintar bahasa, tapi karena ingin menjauh dari matematika, musuh bebuyutanku sampai sekarang. Sejak kelas satu, kami diarahkan fokus pada pelajaran yang berkaitan dengan Timur Tengah: nahwu, shorof, balaghah, tafsir, hadis, fikih, dan lainnya.
Dari dua belas teman yang fokus ke Timur Tengah, hanya aku yang benar-benar bersikeras memilih Al Qasimia sebagai pilihan pertama. Yang lain sejak awal sudah mantap memilih Mesir.
Aku mencari informasi pendaftaran sendiri. Mengurus berkas sendiri. Meminta bantuan keluarga sebisanya. Semua doa dan usaha sudah kulakukan. Namun ternyata, usahaku belum cukup untuk membawaku ke universitas impian di UEA itu.
Dan ya, aku tidak diterima.
Sedih? Tentu.
Tapi hidup tidak berhenti di satu pintu yang tertutup.
Turun Selangkah, Bukan Menyerah.
Akhirnya aku memutuskan fokus ke Mesir. Bagiku, ini bukan mundur, tapi turun satu anak tangga untuk naik lebih tinggi. Lebih baik bergerak, meski perlahan, daripada berhenti di awal.
Meski begitu, rasa takut tetap ada. Aku mendaftar ke beberapa kampus lain juga karena kurang percaya diri. Aku belajar semampuku, dan satu hal yang paling sering kulakukan saat itu adalah meminta doa.
Ke orang tua.
Ke keluarga.
Bahkan ke orang yang baru bertemu.
Karena aku percaya, doa adalah kekuatan yang sering diremehkan.
Dan hasilnya?
Alhamdulillah, aku lulus di tiga universitas: Mesir, LIPIA, dan Imam Bonjol Padang.
Sampai hari ini aku yakin, itu bukan murni karena kemampuanku. Itu adalah doa ibuku dan orang-orang baik di sekitarku.
Jika ada yang bertanya apa rahasia kelulusanku, jawabanku sederhana: jalur doa ibu.
Mantan Obesitas, Mantan Insecure
Ada satu hal lagi yang ingin kubagikan.
Aku pernah berada di titik berat badan 89 kg. Dan bukan hanya berat badan yang berat, tapi juga rasa tidak percaya diri yang kupikul setiap hari.
Aku tumbuh dengan rasa insecure. Takut kamera. Tidak suka melihat foto sendiri. Rasanya tidak ada yang ingin diabadiakan karena aku tidak menyukai diriku sendiri.
Sampai suatu hari, aku merasa cukup.
Aku tidak ingin menjalani masa kuliah dengan rasa rendah diri yang sama. Aku ingin menikmati hidup tanpa terus merasa kurang.
Akhirnya aku memilih berubah. Diam-diam. Tanpa pengumuman. Tanpa banyak bicara.
Satu setengah tahun aku konsisten. Lari, basket, workout, puasa, mengatur pola makan, semua kulakukan di sela waktu belajar di asrama yang jadwalnya padat.
Hasilnya?
Dari 89 kg menjadi 55 kg saat lulus SMA.
Bukan proses yang instan. Bukan tanpa lelah. Tapi penuh tekad.
Ilmu yang Tidak Tertulis di Buku
Jika ditanya, apa ilmu pondok yang paling berharga untukku?
Jawabanku: disiplin dan manajemen waktu.
Di asrama, waktu diatur hampir 24 jam. Kalau tidak pandai mengelola waktu, kita akan tenggelam dalam kesibukan. Dan justru dari situ aku belajar bahwa perubahan butuh konsistensi, bukan semangat sesaat.
Sekarang, berat badanku berada di lingkar empat. Tapi yang lebih penting, aku merasa lebih sehat dan lebih percaya diri.
Aku belajar satu hal:
Aku adalah aku. Tidak semua orang harus suka. Tidak semua orang harus setuju. Selama aku berproses menjadi lebih baik, itu sudah cukup.
Penutup
Tulisan ini bukan untuk pamer pencapaian. Bukan juga untuk terlihat kuat. Tapi untuk mengingatkan bahwa:
Mimpi boleh besar.
Gagal itu biasa.
Doa itu nyata.
Dan perubahan itu mungkin: selama kita konsisten.
Jika kamu sedang berjuang dalam diam, percayalah, prosesmu tidak sia-sia.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir 🤍



Komentar
Posting Komentar